Selasa, 18 Desember 2012

Teori-teori Intelegensi


Alfred Binet
Alfred Binet (1857-1911) seorang ahli psikologi mengatakan bahwa Inteligensi bersifat monogenetik, yaitu perkembangan dari satu faktor satuan ke faktor umum.
Menururt Binet, Inteligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik-karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan  seseorang. Binet menggambarkan Inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasarkan suatu kriteria terentu. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup Inteligen atau tidak, dapat diamati dari cara dan kematangannya untuuk menggubah arah tindakannya itu apabila perlu.


Edward Lee Thorndike
Thorndike adalah bapak psikologi pendidikan yang juga tokoh aliran psikologi fungsioalisme. Pada dasrnya teori Thorndikemenyatakan bahwa Inteligensi terdiri atas berbgai kemampuan spesifik yang ditampakkan dalam wujud perilaku intelegen.
Formulasi teori Thorndike didasari oleh bukti-bukti riset. Ia mengklasifikasikan Inteligensi kedalam tiga bentuk kemampuan:
1.       Kemampuan Abstraksi, yaitui suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan gagasan atau simbol-simbol.
2.       Kemampuan Mekanik, yaitu suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan alat-alat mekanis dan kemmampuan untuk  melakukan pekerjaan yang memerlukan aktivitas indra gerak
3.       Kemampuan Sosial, yaitu kemampuan untuk meng hadapi orang lain di sekitar diri sendiri dengan cara-cara yang efektif
Thorndike percaya bahwa tingkat Inteligensi tergantung pada banyaknya neural connection atau ikatan syaraf antara rangkaian stimulus dan respon dikarnakan adanya pengguatan (reinforcement) yang dialami seseorang. Orang yang telah banyak memiliki banyak ikatan pada bidang Inteligensi mekanik akan meningkat kecakapan pada bidang tersebut dan begitujuga pada bidang yang lainnya.

Jean Piaget
Teori jean piaget adalah teori Inteligensi yang menekankan pada aspek perkembangan kognitif, tidak merupakan aspek teori yang mengenai struktur Inteligensi semata.
Piaget tidak melihat Inteligensi sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan oleh banyaknya  jawaban yang benar pada suatu tes akan tetapi ia menyimpulkan dalam prinsip teorinya bahwa daya fikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif. Oleh karna itu, masalah utama dalam pembahasan   Inteligensi adalah masalah cara mengungkapkan berbagai metode berfikir yang digunakan oleh anak-anak dari berbagai tingkatan usia.
Jadi pada dasarnya, piaget lebih melihat Inteligensi pada aspek isi, struktur,  dan fungsinya. Dalam menjelaskan Inteligensi sesuai dengan aspek isi, struktur, dan fungsi  tersebut piget mengkaikannya dengan periodisasi perkembangan biologis anak. Periodisasi ini olehnya dibagi atas periode perkembangan :
1.       Tingkat sensori motoris : bayi usia  0 – 2,0
2.       Tingkat preoperasional  : bayi akhir usia 2,0 – 7,0
3.       Tingkat operasi kongkrit : anak usia 7,0 – 11, 0
4.       Tingkat operasional konkrit : anak usiaa remaja 11,0

Referensi: buku Psikologi Intelegensi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar